Tuesday, May 17, 2011

Potret-Potret Kehidupan Cina Tahun 1800

Potret-Potret Kehidupan Di Cina Pada Tahun 1800-an

Gambar di atas tentu saja Tembok Besar China, sebuah benteng yang dibangun mulai abad ke-5 SM hingga abad ke-17. Bagian yang kita lihat hari ini dibangun selama masa pemerintahan dinasti Ming. Sementara itu, bagian tertua telah menghilang dan dibangun kembali, menggantikan bahan aslinya. Panjangnya sekitar 8.851,8 km dengan 2.232 km terdiri dari bukit dan sungai.

Hari ini, China adalah sebuah negara modern yang ramai. Meskipun secara politis berbeda dengan Barat, China mampu bangkit untuk menjadi bangsa yang terkemuka dunia dan siap menjadi kekuatan ekonomi terbesar di muka bumi. Namun, kembali pada kehidupan tahun 1800-an yang sangat berbeda dengan dunia kereta api berkecepatan tinggi, teknologi komunikasi dan outlet McDonalds di kota-kota besar. Mari kita lihat adegan-adegan abad ke-19 yang menunjukkan Cina yang berbeda dengan China yang kita kenal sekarang.

Sebuah foto formal. Wanita-wanita memegang kipas. Satu hal menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana semua yang berpakaian sama dengan gaya rambut yang sama. Pada tahun 1800-an, foto merupakan hal yang masih baru dan menarik. Senyuman sangat jarang ditemui di potret keluarga atau studio, baik di Asia dan Eropa.


Raja muda China, Li Hung Chang, dan Presiden Amerika Serikat, Ulysses S. Grant, bertemu di China pada 1879. Saat itu Grant melakukan tur dunianya untuk memobilisasi dukungan.



Zhan Shi Chai yang berkeliling dunia juga dikenal sebagai Chang “Si Raksasa Cina.” Ia meninggalkan China bersama istrinya yang meninggal pada tahun 1871. Zhan kemudian menikahi seorang gadis Inggris dan memiliki dua anak. Ia pun menetap di negeri asal istrinya. Konon, Zhan memiliki tinggi lebih dari 8 kaki dan peti henazahnya dikabarkan sepanjang 8 kaki 6 inci.

Seperti yang terlihat dalam gambar ini, banyak buruh Cina bekerja di tambang emas Afrika Selatan bersama dengan buruh hitam dan putih. Pekerja Cina telah meninggalkan tanah air mereka karena kelaparan, kerusuhan sosial dan politik, lalu menyebarkan budaya mereka di seluruh dunia.

Sebuah kuil indah yang berada di hutan yang tenang. Bagi mereka yang menginginkan tempat khusus untuk berkomunikasi dengan Tuhan, tempat tersebut patut direkomendasikan.

Apa yang disebut sebagai Perahu Bunga ini sebenarnya merupakan rumah bordil mengambang.

Ini adalah ruang pemeriksaan dengan 7.500 “sel” ujian di mana para pelamar makan, tidur, minum dan mengambil ujian selama beberapa hari. Jika lulus, maka akan diangkat sebagai pegawai pemerintah atau mengajar.

Gaya rambut pada saat itu ditangani dengan hadirnya sejumlah piranti, seperti tabung dan perangkat lainnya. Wanita Tartar tidak terlihat begitu bahagia. Mungkin karena model rambut yang menyakitkan! John Thomson adalah seorang fotografer yang sangat terkenal dan gambar di atas kemungkinan modelnya.

Selanjutnya, Putri Tibet berbalut pakaian adat. Hiasan kepalanya terlihat cukup berat. ada satu keanehan dalam foto ini, coba agan cari keganjilan dari foto ini.
Untuk Jawaban dari keganjilan itu sendiri, sobat coba liat lengannya, lengan putri tibet di balut dengan selempang dari luar. hal ini menunjukkan bahwa sebagai seorang putri akan memiliki segalanya dilakukan untuknya tanpa perlu menggunakan tangannya.

Sebuah gambar luar biasa menunjukkan mercusuar di Sungai Pearl. Tampaknya mereka digunakan lebih dari sekedar lampu jalan, tapi juga untuk menunjukkan bahaya.

Peking (Beijing) adalah kota bertembok Tartar. Agan dapat melihat dinding panjang yang tampaknya tak berujung menjauh dari benteng. Bangunan ini diabaikan hingga 2002. selanjutnya, keputusan dibuat untuk membangun kembali harta karun peninggalan Dinasti Ming. Satu bagian dengan luas 1,5 km sekarang dijadikan sebuah taman terbuka.

Sebuah petunjuk tentang gaya hidup. Empat istri dalam satu keluarga, misalnya. Terlihat pula footstools kayu yang digunakan oleh keluarga kaya untuk menjaga kaki dari lantai dingin.

Kanton dengan labirin airnya. Tampak pegadaian khas China berdiri di bibir sungai.

Pengadilan Qing pada abad ke-19 sering memberi hukuman dengan menggunakan Bastinade [semacam cambuk]. dan terkadang sering mengunakan cambuk ini untuk mendapatkan pengakuan. Ada beberapa orang yang meninggal akibat hukuman cambuk ini

Potret ini diambil di Cholon, bagian dari Chochinchina yang sekarang dikenal sebagai Vietnam bagian selatan. Pada akhir 1800-an, Cholon berada di bawah kendali Perancis. Keindahan wajah gadis itu cocok dengan bajunya. Ia sebenarnya seorang aktris dalam rombongan teater Cina.

Pasukan artkeri tidaklah mudah didapatkan, baik di cina maupun di negara lain. Orang-orang dalam foto di atas merupakan tentara bayaran yang disuplai oleh Inggris. Seperti yang Agan lihat, mereka harus menarik meriam dan artileri besar dengan tangan.

SUMBER

Post By Bilbulsama
http://bilbulsama.blogspot.com/

Blog Archive